• Jelajahi

    Copyright © MATA MEDIA ONLINE
    Best Viral Premium Blogger Templates

    DPP

    Ads

    Ketika Masdar Tambusai Tak Kuasa Mengungkapkan Getaran Batin Melayani Tamu Allah*

    Kamis, 25 Juni 2026, 05:25 WIB Last Updated 2026-06-25T12:25:48Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    MEDAN — (MMO)Nasional. Wawancara itu semula berlangsung biasa. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab dengan tenang. Sebagai Petugas Haji Daerah (PHD) Kloter 17 Debarkasi Medan, Masdar Tambusai menceritakan berbagai pengalaman selama mendampingi jamaah haji Sumatera Utara di Tanah Suci.

    Ia berbicara tentang pelayanan, tentang makanan jamaah yang tersedia dengan baik, tentang ibadah yang dapat dilaksanakan dengan nyaman, serta tentang berbagai kebutuhan jamaah yang berhasil dipenuhi selama pelaksanaan haji berlangsung.

    Namun suasana berubah ketika pembicaraan menyentuh satu hal yang jauh lebih dalam: pengalaman spiritual.
    Belum selesai pertanyaan diajukan, suara Masdar mulai bergetar. Kalimat yang hendak disusunnya seolah tertahan di tenggorokan. Matanya berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian, ia sesenggukan. Air mata mulai memenuhi kelopak matanya.

    Wawancara pun terhenti.

    Melihat kondisi itu, pewawancara memilih menghentikan pertanyaan.

    "Silakan saja menangis, Pak. Tidak apa-apa. Luapkan saja isi hati," ucapnya.

    Momen itu menghadirkan keheningan yang berbicara lebih banyak daripada seribu kalimat.

    Sebab rupanya ada pengalaman yang memang tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi kata-kata.

    Masdar kemudian berusaha menenangkan diri. Dengan suara yang masih bergetar, ia mengaku bahwa menjadi petugas haji memberikan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

    "Sebagai petugas haji ada kebahagiaan tersendiri yang luar biasa. Kita senang ketika jamaah bisa beribadah dengan nyaman dan tenang. Kita puas ketika kebutuhan mereka tersedia dengan baik. Kita melihat mereka makan dengan gembira, melaksanakan ibadah dengan lancar, dan merasakan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka," ujarnya.

    Baginya, kepuasan terbesar bukanlah penghargaan atau pengakuan.

    Kepuasan itu hadir ketika melihat para jamaah dapat menunaikan rukun Islam kelima dengan khusyuk.

    Ketika seorang jamaah tersenyum karena memperoleh pelayanan yang baik, ketika seorang lansia dapat menyelesaikan rangkaian ibadah dengan aman, ketika rombongan kembali ke tanah air dalam keadaan sehat, di situlah seorang petugas merasakan kebahagiaan yang mungkin tidak pernah tercatat dalam laporan resmi.

    Namun saat ditanya lebih jauh tentang pengalaman spiritual yang dirasakannya selama melayani jamaah, Masdar kembali terdiam.

    Ia mengaku tidak memiliki cukup kata untuk menjelaskannya.

    "Ini tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Perasaan itu melampaui kata-kata," katanya pelan.

    Menurutnya, pengalaman spiritual dalam ibadah haji adalah sesuatu yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang pernah merasakannya.

    Ia mengibaratkan perasaan itu sebagai getaran batin yang hadir begitu saja, menyentuh bagian terdalam hati manusia.
    Perasaan yang tidak dapat diukur dengan logika dan tidak dapat dijelaskan dengan kalimat yang paling indah sekalipun.

    "Itulah sebabnya banyak orang yang sudah berhaji atau berumrah selalu ingin kembali lagi. Karena ada perasaan yang tidak bisa diterangkan. Tidak cukup kata-kata untuk menjelaskan pengalaman itu," ujarnya.

    Ia kemudian mengenang saat pertama kali melihat Ka'bah.

    Mata yang selama ini hanya melihat gambar dan tayangan televisi tiba-tiba berhadapan langsung dengan pusat kiblat umat Islam sedunia.

    Di momen itu, katanya, air mata mengalir begitu saja.

    Bukan karena kesedihan.

    Bukan pula karena kelelahan.

    Melainkan karena hati merasakan sesuatu yang tidak pernah dialami sebelumnya.

    "Ketika melihat Ka'bah, kita menangis. Ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW, kita menangis. Bahkan ketika menceritakannya kembali seperti sekarang, air mata itu ingin keluar lagi," tuturnya.

    Kalimat itu terputus beberapa kali.

    Bukan karena ia lupa apa yang ingin dikatakan.

    Melainkan karena emosi yang kembali menyeruak dari relung hati.

    Di tengah era ketika banyak hal diukur dengan angka, statistik, dan laporan kinerja, pengalaman Masdar mengingatkan bahwa ibadah haji memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar perjalanan fisik.

    Di sana ada perjalanan hati.

    Ada kerinduan.

    Ada harapan.

    Ada kepasrahan.

    Dan ada perjumpaan spiritual yang sering kali tidak mampu diterjemahkan oleh bahasa manusia.

    Mungkin karena itulah air mata Masdar menjadi begitu bermakna.

    Ia tidak sedang menangis karena lelah bertugas.

    Ia tidak sedang menangis karena perjalanan panjang yang telah dilalui.

    Air mata itu lahir dari rasa syukur karena pernah diberi kesempatan menjadi bagian kecil dari pelayanan terhadap tamu-tamu Allah.

    Dan dalam banyak kesempatan, memang ada pengalaman yang tidak membutuhkan penjelasan panjang.

    Air mata yang tulus sering kali telah mengatakan semuanya *(zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)*(RED/LM)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    NamaLabel

    +